11

Manisan Turki untuk Putin

BRUSSELS – Jangan mudah percaya dengan musuh-musuhmu, meski tampak budiman. Sekeping anjuran yang tepat disampaikan pada Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan seiring upaya untuk merajut kembali hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan kedekatannya dengan negara-negara Barat.

Pertemuan Erdoğan dan Putin di St. Petersburg bulan ini tampaknya berfokus untuk mencairkan suasana pasca penembakan yang dilakukan Turki terhadap pesawat perang Rusia di dekat perbatasan Suriah tahun lalu. Tapi Kremlin memandang kunjungan tersebut sebagai peluang meyakinkan Erdoğan untuk “berpaling ke timur” dan bergabung dengan Rusia, serta Cina dan sejumlah negara di  Asia Timur, sebagai bagian dari keluarga autokrasi. Pertanyaan ialah apakah Erdoğan betul-betul mau meraih tawaran tersebut atau tidak.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Jelas sekali Erdoğan berlakon dengan Putin, menjanjikan persahabatan dan kerja sama. Dalam perannya, ia mengirimkan pesan kuat kepada sekutu-sekutu Barat – yang selama ini mengkritisi penangkapan ribuan rivalnya, termasuk banyak wartawan, setelah kudeta militer gagal yang terjadi bulan lalu – yang bernada penolakan seperti “Kami tidak membutuhkan kalian”. Sebaliknya, Putin adalah pemimpin negara pertama yang menyerukan dukungan kepada pemerintahan Erdoğan pasca kudeta, mungkin ini alasan kenapa Rusia adalah tujuan pertama Erdoğan setelah situasinya mereda.

Tentunya Erdoğan juga ingin meraih peluang emas untuk menguatkan keamanan Turki dan kawasan. Bagaimanapun juga, semua pihak – terutama NATO – enggan melihat perseteruan antar Turki dan Rusia.

Tapi jangan heran kalau Erdoğan punya hasrat membuat sekutu-sekutu NATO merasa gugup. Dan sesungguhnya ia berhasil. Setidaknya, Uni Eropa membutuhkan Turki untuk terus membatasi masuknya pengungsi ke daratan Eropa, sesuai kesepakatan pada bulan Maret lalu; indikasi apapun yang menandai sikap berseberangan dengan Eropa menjadi gejala kekhawatiran besar.

Barangkali ini bukan sekadar niat Erdoğan memperbaiki hubungan dengan Putin. Jika ia betul-betul ingin menata ulang hubungan dengan Rusia, sadar bahwa aksi tersebut bisa mengorbankan hubungan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, ini akan menyebabkan penyusunan ulang geopolitik secara besar-besaran. Tapi kemungkinan terjadinya cukup kecil.

Kremlin mempunyai kepentingan kuat atas pemburukan hubungan Turki dengan negara-negara Barat. Putin cukup lantang menyuarakan penolakannya terhadap kebijakan-kebijakan NATO – terutama perannya di negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. Mengingat rendahnya kepedulian Putin atas hak-hak asasi manusia, supremasi hukum, atau demokrasi, menyaksikan pemimpin UE dan AS saling berselisih dengan Erdoğan akibat penindasan pasca kudeta yang dilakukannya, pasti tampak sebagai momentum sempurna untuk melemahkan NATO.

Alasan lain mengapa Rusia sangat gencar untuk membuka tangan ke Turki adalah konflik berkepanjangan di Suriah, yang mana Kremlin sudah melakukan intervensi militer demi mempertahankan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Putin perlu kemenangan di Suriah – dan pintu keluar. Itu sebabnya ia ingin bersanding dengan Erdoğan, yang selama ini mensuplai senjata dan memberi dukungan pemberontak Sunni yang terus-menerus diburu angkatan udara Rusia.

Akan tetapi dukungan terhadap poros timur yang diserukan Turki sangat lemah. Memang benar, Turki memerlukan wisatawan asal Rusia untuk membangkitkan perekonomian yang lesu. Tapi manfaat ekonomi apapun yang bisa ditawarkan Turki akan kalah dengan manfaat yang diberikan UE ��� mitra dagang dan bisnis yang penting, berperan vital dalam menggerakkan modernisasi di Turki. Belum lagi rekam jejak Putih sebagai mitra yang tidak terpercaya. Bagaimanapun juga, meski pemulihan hubungan dengan Rusia dapat menguntungkan Turki, Erdoğan tidak akan sanggup kehilangan hubungan dengan dunia Barat.

Walaupun aksi Erdoğan memasuki orbit Putin bisa dikatakan strategic error, banyak pemimpin lain yang sudah membuat kesalahan sama. Itu sebabnya beberapa bulan berikutnya adalah periode yang ketat, ketika Turki dan UE mendiskusikan isu-isu panas.

Penindasan pasca kudeta oleh Erdoğan bukan satu-satunya sumber ketegangan Turki dan Barat, terutama UE. Turki bersikeras bahwa kunjungan bebas visa bagi warga Turki ke UE, yang dijanjikan pimpinan UE bulan Januari lalu, harusnya dilaksanakan tahun ini. Namun, karena Turki sejauh ini gagal memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan, termasuk penyusunan ulang UU anti terorisme, kecil kemungkinan itu akan terwujud – sebuah akibat yang sangat mungkin dipicu oleh upaya kudeta. Dengan demikian, kesepakatan soal migran yang dihasilkan di bulan Maret dalam kondisi sekarat.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Untuk membangun jalan ke depan, dialog berkesinambungan antar UE dan Turki sangat diperlukan. Alih-alih membiarkan Erdoğan memanfaatkan hubungannya dengan Putin untuk memanipulasi sekutu-sekutunya di NATO, negara-negara Barat – dan terutama UE – harus mengutuk keras pergeseran Turki menuju autokrasi. Dunia Barat harus menyadarkan Erdoğan bahwa jalur yang ia ambil justru menjauhkannya dari keanggotaan EU dan dapat merugikan negaranya jika kehilangan hubungan ekonomi yang diandalkan Turki.

Erdoğan harus memutuskan. Ia punya pilihan untuk memperbarui komitmen negaranya terhadap kerja sama lebih erat dengan UE, mengingat segala kemakmuran yang dapat diperoleh, atau terus menjerumuskan Turki ke masa depan yang diwarnai despotisme dan isolasi, sesekali diisi dengan telepon pemberi semangat dari Kremlin, tapi tidak lebih dari itu. Dua opsi saja. Demi rakyat Turki, semoga Erdoğan tersadar.