17

Tantangan-Tantangan Kebijakan Luar Negeri Donald Trump

CAMBRIDGE – Selama kampanyenya, Presiden terpilih AS Donald Trump mempertanyakan aliansi-aliansi dan lembaga-lembaga yang mendasari tatanan dunia liberal, namun ia menguraikan sejumlah kebijakan yang spesifik. Mungkin pertanyaan paling penting yang ramai dibicarakan akibat kemenangannya adalah apakah fase panjang globalisasi yang dimulai pada akhir Perang Dunia II pada dasarnya telah berakhir.

Tidak demikian. Bahkan jika perjanjian-perjanjian perdagangan seperti Trans-Pacific Partnership dan TTIP gagal dan globalisasi ekonomi melambat, teknologi meningkatkan globalisasi ekologi, politik, dan sosial dalam bentuk perubahan iklim, terorisme lintas negara, dan migrasi – baik Trump menyukainya atau tidak. Tatanan dunia bukan sekedar ekonomi, dan Amerika Serikat masih menjadi pusatnya.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Warga Amerika sering salah memahami posisinya di dunia. Kita terombang-ambing antara kemenangan dan penurunan. Setelah Soviet meluncurkan Sputnik pada tahun 1957, kita percaya bahwa kita sedang mengalami penurunan. Pada tahun 1980-an, kita berpikir bahwa Jepang lah yang berkuasa. Setelah Resesi Besar (Great Recession) 2008, banyak orang Amerika salah percaya bahwa Tiongkok lebih kuat dari Amerika Serikat.

Tidak seperti retorika Trump, AS tidak sedang mengalami penurunan. Berkat imigrasi, AS adalah satu-satunya negara maju yang tidak akan mengalami penurunan demografis di pertengahan abad ini; ketergantungan AS pada energi impor mulai menurun; AS adalah pemimpin dari teknologi-teknologi utama (bio, nano, informasi) yang akan membentuk negara ini; dan kebanyakan universitasnya mendominasi liga universitas terbaik di dunia.

Banyak perihal penting yang akan memenuhi agenda kebijakan luar negeri Trump, namun beberapa isu pokoknya sepertinya akan mendominasi – yaitu hubungan kekuasaan yang besar dengan Tiongkok dan Rusia dan ketidakstabilan di Timur Tengah. Militer Amerika yang kuat tetap penting namun tidak cukup untuk mengatasi ketiga hal tersebut. Mempertahankan keseimbangan militer di Eropa dan Asia Timur adalah sumber penting pengaruh Amerika, namun Trump benar bahwa mencoba untuk mengendalikan politik dalam negeri dari masyarakat nasionalis di Timur Tengah adalah jalan menuju kegagalan.

Timur Tengah sedang mengalami beberapa revolusi yang berakar dari batas-batas buatan setelah kolonialisme; perselisihan sektarian agama, dan modernisasi yang tertunda yang dijabarkan di dalam Laporan Pembangunan Manusia Arab (Arab Human Development Reports) yang dikeluarkan PBB. Gejolak yang dihasilkan mungkin berlangsung untuk beberapa dekade, dan ini akan terus memancing terorisme radikal. Eropa masih tidak stabil selama 25 tahun setelah Revolusi Perancis, dan intervensi militer oleh kekuatan dari luar membuat permasalahan makin buruk.

Namun, bahkan dengan menurunnya impor energi dari Timur Tengah, AS tidak dapat membalikkan punggungnya dari kawasan tersebut, melihat kepentingannya di Israel, non-proliferasi, dan Hak Asasi Manusia, di antaranya. Perang sipil di Siria bukan hanya sekedar bencana kemanusiaan; namun juga mengganggu kestabilan kawasan tersebut dan Eropa juga. AS tidak dapat mengesampingkan peristiwa seperti itu, namun kebijakannya juga harus menjadi bagian dari pengamanan, mempengaruhi dampak dengan mendorong dan memperkuat aliansi kita, daripada mencoba untuk memasukan kendali militer secara langsung, yang mana mahal dan kontra produktif.  

Sebaliknya, keseimbangan kekuatan kawasan di Asia membuat AS diterima di sana. Kebangkitan Tiongkok telah menuai kekhawatiran di India, Jepang, Vietnam, dan negara-negara lain. Mengelola kebangkitan global Tiongkok adalah salah satu tantangan kebijakan luar negeri terbesar saat ini, dan strategi dua jalur dua pihak AS dengan “integrasi namun memastikan” – yang mana AS mengundang Tiongkok untuk bergabung dengan tatanan dunia liberal, dan pada saat bersamaan memperkuat perjanjian perdamaian mereka dengan Jepang – masih merupakan pendekatan yang tepat.

Tidak seperti satu abad yang lalu, saat Jerman yang sedang bangkit (yang telah melebihi Inggris pada tahun 1900) menuai ketakutan yang membantu memicu bencana pada tahun 1914, Tiongkok tidak akan melibihi kita dalam hal kekuatan keseluruhan. Bahkan jika ekonomi Tiongkok melebihi jumlah total ekonomi Amerika pada tahun 2030 atau 2040, pendapatan per kapita mereka (pengukuran yang lebih baik untuk melihat kemapanan ekonomi) akan masih ketinggalan. Terlebih lagi, Tiongkok tidak akan sejajar dengan militer AS dalam hal daya tarik “kekuatan keras” dan “kekuatan lunak”. Seperti yang pernah dikatakan oleh Lee Kuan Yew, selama AS masih terbuka dan menarik talenta-talenta dunia, Tiongkok akan menjawab tantangan itu dengan baik, namun tidak akan menggantikan AS.

Untuk alasan-alasan tersebut, AS tidak memerlukan kebijakan untuk menahan Tiongkok. Satu-satunya negara yang dapat menahan Tiongkok adalah Tiongkok itu sendiri. Selama Tiongkok menekan konflik teritorinya dengan tetangga-tetangganya, Tiongkok menahan dirinya sendiri. AS perlu untuk meluncurkan inisiatif ekonomi di Asia Tenggara, memastikan kembali aliansi dengan Jepang dan Korea, dan terus meningkatkan hubungan dengan India.

Pada akhirnya, ada Rusia, negara yang sedang mengalami penurunan, namun dengan senjata nuklir yang cukup untuk menghancurkan AS – dan maka dari itu masih merupakan potensi ancaman bagi Amerika dan yang lainnya. Rusia hampir sepenuhnya menggantungkan pendapatannya dari sumber-sumber energinya, mengadopsi sistem “ekonomi dengan satu tanaman pangan” atau “one crop economy” dengan lembaga-lembaga yang korup, dan diwarnai masalah kesehatan dan kependudukan yang besar. Intervensi-intervensi Vladimir Putin di negara-negara tetangga dan di Timur Tengah. Dan dengan serangan cyber-nya ke AS dan negara lain, walaupun dimaksudkan untuk membuat Rusia terlihat hebat lagi, hanya memperburuk prospek jangka panjang negara tersebut. Namun demikian, dalam jangka waktu yang singkat, negara-negara yang mengalami penurunan sering mengambil resiko yang lebih besar dan maka dari itu berbahaya – lihat Kekaisaran Austro-Hungaria pada tahun 1914.

Fake news or real views Learn More

Ini telah menghasilkan dilema kebijakan. Di satu sisi, penting untuk tidak menerima tantangan Putin yang ingin mengubah permainan terhadap larangan tatanan dunia liberal setelah 1945 yaitu mengenai penggunaan kekuatan oleh negara-negara untuk mencaplok wilayah dari tetangga-tetangganya. Pada saat yang sama, Trump benar untuk mencegah isolasi penuh sebuah negara yang mana memiliki kepentingan yang sama dengan kita mengenai keamanan nuklir, non-proliferasi, anti-terorisme, kutub utara, dan masalah kawasan seperti Iran dan Afghanistan. Sanksi keuangan dan energi penting untuk memeberikan efek pencegahan; namun kita juga memiliki kepentingan tulus yang paling baik diteruskan dengan berhubungan dengan Rusia. Tidak ada yang akan mendapatkan keuntungan dengan Perang Dingin yang baru.

Amerika Serikat sedang tidak mengalami penurunan. Tugas kebijakan luar negeri yang mendesak bagi Trump adalah menyesuaikan retorikanya dan memastikan para sekutu dan yang lainnya menjaga peran AS dalam tatanan dunia liberal untuk terus berlanjut.