marin10_GEOFF CADDICKAFP via Getty Images_londonrobotmanufacturingcars Geoff Caddick/AFP via Getty Images

Cara COVID-19 Mentransformasikan Manufaktur

MUNICH – Seiring dengan peningkatan pandemi COVID-19, maka risiko yang melekat pada rantai pasok global juga terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Daripada menunggu bisnis kembali ke normal, dengan terkonsentrasinya aktivitas manufaktur di negara-negara dengan buruh murah dan banyak, perusahaan-perusahaan dari negara maju mengalihkan fokus mereka ke pekerja termurah yang pernah ada: robot.

Perusahaan-perusahaan mulai merelokasi produksi mereka ke negara-negara dengan upah rendah pada awal tahun 1990an, ditambah dengan runtuhnya Tirai Besi, integrasi global dan masuknya Tiongkok ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), serta peningkatan penggunaan peti kemas. Periode antara tahun 1990 dan krisis keuangan global pada tahun 2008 telah menjadi era hiper-globalisasi dengan rantai nilai global berkontribusi sebesar 60% dari perdagangan global.      

Krisis keuangan global dan perekonomian pada tahun 2008 menandai dimulainya akhir dari era hiper-globalisasi. Pada tahun 2011, rantai nilai global berhenti berkembang. Dan belum tumbuh kembali sejak saat itu.

We hope you're enjoying Project Syndicate.

To continue reading, subscribe now.

Subscribe

or

Register for FREE to access two premium articles per month.

Register

https://prosyn.org/USlnL5fid