8

Kembalinya Penyakit Demam Kuning

SEATTLE – Sebelum horor akibat wabah Ebola di Afrika Barat terhapus dari pikiran kita, virus Zika muncul sebagai risiko besar bagi kesehatan global, dan kini menyibukkan para peneliti dan dokter di Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Kepulauan Karibia. Akan tetapi, angka kematian akibat virus lain terus meningkat tajam: demam kuning (yellow fever).

Di Afrika barat daya, Angola menghadapi epidemi serius akibat penyakit demam kuning – wabah pertama dalam kurun 30 tahun. Sejak muncul di Luanda, ibukota dan kota terpadat penduduknya di Angola, pada bulan Desember lalu, virus tersebut telah menewaskan 293 orang dan menginfeksi sekitar 2.267 orang. Virus tersebut sudah menyebar ke enam dari total 18 provinsi di Angola. Kasus demam kuning dilaporkan di Cina, Kongo, dan Kenya yang dibawa oleh orang-orang yang datang dari Angola. Kini Nambia dan Zambia masuk daftar negara yang perlu diwaspadai.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Virus penyakit demam kuning ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti – jenis nyamuk yang juga menyebarkan virus Zika. Gejalanya termasuk demam, nyeri pada otot, sakit kepala, mual, muntah-muntah, dan kelelahan. Hampir setengah pasien yang tidak diobati meninggal dunia dalam waktu 10-14 hari akibat penyakit demam kuning yang parah.

Berita bagusnya adalah, berbeda dengan Zika atau Ebola, demam kuning bisa dikendalikan dengan vaksin yang efektif, yang memberikan imunitas bersifat seumur hidup dalam kurun satu bulan sejak pemberiannya. Sesungguhnya, vaksinasi menjadi inti dari Rencana Respon Nasional di Angola yang diresmikan awal tahun ini dengan tujuan memberikan vaksin demam kuning kepada lebih dari 6,4 juta penduduk di provinsi Luanda. Sejauh ini, hampir 90% populasi target sudah mendapatkan vaksin berkat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), International Coordinating Group for Vaccine Provision, dan negara-negara lainnya seperti Sudan Selatan dan Brasil, yang secara keseluruhan berhasil menyediakan 7,35 juta dosis vaksin.

Upaya vaksinasi massal telah menghambat penyebaran demam kuning. Akan tetapi, untuk mengakhiri wabah tersebut, vaksinasi harus dilanjutkan tidak hanya di Luanda, kota dimana sekitar 1,5 juta penduduk lainnya berisiko terinfeksi, namun juga di provinsi-provinsi lain yang terjangkit virus. Ini merupakan tantangan besar.

Salah satu permasalahan utama adalah biaya. Pada tahun 2013, harga satu dosis vaksin demam kuning di Afrika adalah $0.82 – harga yang tidak sanggup dibayar mayoritas negara-negara berkembang. Pada tahun 2015 sebuah laporan oleh Médecins Sans Frontières menunjukkan bahwa vaksin tersebut sekarang hampir 70 kali lebih mahal dibandingkan harga tahun 2011.

Lebih buruknya lagi, walaupun negara mempunyai dana, tetap saja ada persoalan keterbatasan pasokan yang serius. Pasteur Institute of Dakar di Senegal, salah satu dari empat fasilitas produksi vaksin deman kuning di dunia, menghasilkan sekitar 10 juta dosis per tahun, dan proses produksinya sangat sulit untuk ditingkatkan. Selain itu, Pasteur Institute akan menghentikan kegiatan untuk renovasi selama lima bulan sehingga tidak bisa memproduksi lebih banyak vaksin.

Untungnya, situasi akan segera membaik. Pasteur Institute tengah membangun fasilitas baru sekitar 30 km dari Dakar, yakni di Diamniadio, yang diperkirakan akan menaikkan produksi hingga tiga kali lipat pada tahun 2019. Produsen vaksin demam kuning lainnya, yaitu Sanofi Pasteur di Perancis, juga menambah kapasitas produksinya. (Dua produsen lainnya berkedudukan di Brasil dan Rusia).

Namun sekarang suplai masih terbatas. Salah satu cara untuk menghemat pasokan sekarang adalah memberikan dosis secara fraksional (seperlima dosis biasa), yang juga terbukti melindungi dari penyakit demam kuning.

Namun itu saja tidak cukup jika virus semakin menyebar. Dan sayangnya, tingginya jumlah nyamuk Aedes aegyptii  di kawasan yang terinfeksi virus menunjukkan bahwa risiko penyebarannya masih tinggi.

Sebuah wabah di kawasan seperti Asia, yang tidak berpengalaman menghadapi wabah demam kuning dan tidak mempunyai kapasitas produksi vaksin, akan sangat sulit dikendalikan. Menurut John P. Woodall, pendiri ProMED (pemantau wabah penyakit di seluruh dunia), jika demam kuning menyebar ke Asia melalui iklim dan jenis nyamuk yang cocok, ratusan ribu jiwa akan terinfeksi (dan mungkin meninggal dunia) sebelum stok vaksin bisa dikirimkan.

Virus tersebut juga berpotensi menyebar ke benua Amerika, kawasan yang menjadi rumah bagi nyamuk Aedes sebagai vektor yang tidak hanya menyebarkan demam kuning, tapi juga dengue, Zika, dan chikungunya. Organisasi Kesehatan Pan Amerika telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan dini akan virus demam kuning di Amerika Latin.

Fake news or real views Learn More

Untuk membantu mengurangi penyebaran demam kuning, peraturan kesehatan dunia mewajibkan agar semua pelawat ke 34 negara endemik demam kuning memiliki sertifikat vaksinasi. Namun penerapan aturan-aturan tersebut tergantung pada kapasitas masing-masing negara dan jauh dari sempurna. Sejauh ini, total sembilan kasus demam kuning yang dikonfirmasi oleh laboratorium yang berasal dari Angola telah dilaporkan oleh Cina melalui National IHR Focal Point. Laporan tentang infeksi demam kuning yang diderita pelawat yang tidak mendapat imunisasi kembali dari negara dimana vaksinasi bersifat wajib tentu menyoroti pentingnya untuk menegaskan kembali pelaksanaan kewajiban vaksinasi.

WHO tengah bekerja sama secara erat dengan sejumlah mitra dan pemerintah Angola untuk melawan wabah penyakit ini. Namun, sebagaimana dikemukakan oleh beberapa pakar kesehatan, masih diperlukan upaya-upaya lain untuk mengatasinya. WHO harus membentuk komite darurat untuk mengkoordinasikan respon internasional lebih luas, memobilisasi anggaran, dan memelopori penambahan produksi vaksin secara cepat, serta sebuah “standing emergency committee” (komite tetap) yang berkemampuan memecahkan krisis-krisis kesehatan masyarakat di masa mendatang dengan cepat dan efektif.