A Yemeni child suspected of being infected with cholera AFP/Getty Images

Resep Bangladesh untuk Penyakit Kolera

DHAKA – Saat ini, penyakit kolera seharusnya sudah menjadi sejarah. Selama berabad-abad, para praktisi kesehatan telah memahami cara untuk mencegah penyakit ini, dokter telah mengetahui cara mengobatinya, dan para ahli pembangunan telah menyadari bahwa air bersih dan sanitasi dapat mencegah wabah menjadi epidemi. Namun sayangnya, kenyataan tidak semudah dan seindah itu, dan ancaman penyakit kolera terus berlanjut.

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Di banyak belahan dunia, penyakit kolera telah berhasil ditaklukkan. Penyakit yang ditularkan melalui air sama sekali tidak ada lagi di negara-negara berkembang. Dan bahkan di negara dan wilayah miskin, di mana penyakit kolera masih mewabah, ketersediaan terapi rehidrasi oral, atau ORT, telah membantu mencegah kematian yang tidak terhitung jumlahnya.

Namun penyakit kolera terus mewabah pada saat krisis terjadi dan membunuh kelompok yang paling rentan. Salah satu epidemi kolera yang terburuk sekarang terjadi di Yaman, di mana konflik bersenjata menyebabkan runtuhnya sistem kesehatan, air, dan sanitasi – yang merupakan kondisi yang menyebabkan wabah kolera. Kasus penyakit kolera pertama yang dilaporkan di negara ini terjadi pada bulan Oktober 2016; dalam jangka waktu setahun, jumlah tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 600,000 kasus.

Organisasi-organisasi internasional seperti PBB dan WHO, bekerja sama dengan pekerja kesehatan Yaman, telah melakukan upaya tanggapan yang mengesankan. Upaya mereka telah menjaga angka kematian di sekitar 0.33% dari seluruh infeksi (setara dengan 2,000 kematian), sehingga bisa mengurangi tragedi karena penyakit ini. Namun para pekerja kesehatan Yaman berada dalam kondisi yang sulit dan mereka membutuhkan sumber daya serta pelatihan. Negara Saya memimpin upaya untuk menjamin bahwa mereka menerima kedua hal tersebut.

Pada bulan Oktober, sebuah tim yang terdiri dari perawat dan dokter asal Yaman tiba di International Centre of Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh (icddr,b), di mana Saya telah bekerja hampir seluruh kehidupan profesional Saya. Institut kami adalah tempat yang menghasilkan ORT, dan praktisi medis dari seluruh dunia datang ke Dhaka untuk berlatih memberikan solusi mudah tersebut, yaitu dengan memberikan gula, garam, elemen lain, dan air.

Selama satu pekan, para praktisi kesehatan asal Yaman menerima pelatihan penanganan wabah, metode pengawasan dan sanitasi. Mereka mengamati pengobatan pasien kolera di rumah sakit kami yang memberikan pelatihan langsung untuk penanganan kasus dan memeriksa status dehidrasi.

Ini hanyalah sebuah contoh dimana icddr,b telah membantu meringankan penderitaan manusia semasa krisis. Sebagai pendiri Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN) dari WHO, icddr,b telah menugaskan tim ahli ke Zimbabwe, Sudah, Sudan Selatan, Mozambik, Suriah, Somalia, Haiti, Sierra Leone, Ethiopia dan Irak. Dengan berbagi pengetahuan dan keahlian yang telah kami kembangkan selama beberapa dekade mengenai penanganan dan penelitian penyakit diare, kami memainkan peran utama dalam upaya global untuk mengatasi wabah.

Bangladesh mempunyai pengalaman dengan penyakit kolera semasa perang. Pada tahun 1971, pertikaian terjadi ketika Bangladesh, yang ketika itu di kenal sebagai Pakistan Timur, mendeklarasikan kemerdekaan dari Pakistan. Dalam konflik yang terjadi selanjutnya, para pengungsi melintasi perbatasan ke negara tetangga, yaitu India, ke tempat pengungsian yang padat, sehingga menciptakan kondisi yang menyebabkan wabah penyakit kolera. Saat itu, standar pengobatan masih buruk, dan langkanya infus menyebabkan solusi rehidrasi tidak bisa dilakukan secara luas.

Ketika banyak orang dalam keadaan kritis, seorang dokter berjiwa pelopor bernama Dilip Mahalanabis mengambil tindakan dalam keadaan putus asa. Peneliti Amerika di Bangladesh menunjukkan bahwa ORT dapat mengobati dehidrasi di pasien penyakit kolera, namun tingkat efektivitas di luar rumah sakit belum terbukti. Dengan peralatan dan fasilitas medis yang serba kurang, Mahalanabis memberikan pengobatan ORT di kamp-kamp pengungsi dan berhasil menyelamatkan ribuan nyawa. Oleh karena itu, ORT menjadi sebuah standar baru pengobatan penyakit diare; dan sejak saat itu, telah berhasil menyelamatkan lebih dari 80 juta orang di seluruh dunia. 

Saat ini, krisis penyakit kolera di daerah konflik kembali muncul, dan pengalaman Bangladesh kembali diperlukan. Yaman hanyalah sebuah contoh dari hal ini.

Sejak bulan Agustus, ratusan ribu orang Rohingya telah melintasi perbatasan ke Bangladesh dari Myanmar, yang merupakan arus mingguan pengungsi terbesar di seluruh dunia sejak genosida di Rwanda pada tahun 1994. Orang-orang yang putus asa dan berada dalam keadaan rentan ini memadati kamp-kamp pengungsi dan terdapat risiko yang tinggi bahwa kondisi ini akan menyebabkan epidemi penyakit kolera yang mematikan.

Untuk menanggapi ancaman ini, icddr,b berkolaborasi dengan UNICEF, WHO, dan pemangku kepentingan penting lainnya dalam berbagai inisiatif untuk mencegah penyakit kolera. Banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta penyediaan pasokan kemasan ORT. Kami juga telah bekerja sama dengan WHO untuk mendapatkan 900,000 dosis vaksin oral penyakit kolera (OCV), yang merupakan sebuah alat yang diterima dalam standar internasional untuk mencegah dan menangani wabah penyakit kolera.

Seperti ORT, pengembangan OCV juga berasal dari Bangladesh, khususnya di icddr,b. Uji coba lapangan OCV pertama yang berhasil dilakukan di icddr,b pada tahun 1980an dan saat ini, para peneliti kami memanfaatkan beberapa dekade pengetahuan institusi untuk melaksanakan kampanye OCV terbesar kedua yang pernah dilaksanakan. 

Mungkin sulit untuk dibayangkan bahwa negara berkembang seperti Bangladesh bisa memainkan peran pelopor dalam menangani penyakit yang berdampak besar. Namun, berulang kali para peneliti dan pekerja kesehatan di Bangladesh telah menunjukkan keahlian mereka dalam menangani wabah penyakit kolera dan menyelamatkan banyak nyawa. Di saat dunia mencari cara baru untuk mengendalikan epidemi penyakit karena kondisi yang ada, kita tidak boleh mengabaikan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki oleh negara-negara berkembang.           

Penyakit kolera telah kembali muncul di belahan dunia bagian selatan. Namun, seperti yang pekerjaan kami telah tunjukkan, belahan dunia bagian selatan mempunyai kemampuan untuk mengalahkan penyakit tersebut.         

http://prosyn.org/AMrwwH7/id;