18

Kemunduran Brexit?

LONDON – Realita perekonomian mulai menyadarkan banyak warga Inggris akan palsunya harapan yang mereka miliki selama ini. Setahun yang lalu, dengan perbedaan yang tipis mayoritas warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa, hal ini terjadi karena mereka mempercayai janji-janji media populis, dan para politisi yang mendukung kubu yang ingin keluar dari Uni Eropa, yang mengatakan bahwa Brexit tidak akan menurunkan standar hidup mereka. Memang benar bahwa setahun setelah hal ini terjadi, Inggris berhasil mempertahankan standar hidup mereka dengan mengandalkan hutang.

Keadaan ini dapat bertahan untuk sementara waktu karena peningkatan konsumsi rumah tangga menstimulasi perekonomian. Namun perekonomian Inggris akan merasakan akibat Brexit dalam waktu dekat. Hal ini tercermin dalam laporan terakhir yang dipublikasikan oleh Bank Sentral Inggris yang memperlihatkan pertumbuhan pendapatan di Inggris tidak dapat mengikuti inflasi, sehingga pendapatan riil akan mulai mengalami penurunan.

Seiring dengan berlanjutnya tren ini dalam beberapa bulan mendatang, rumah tangga di Inggris akan segera menyadari bahwa standar hidup mereka mengalami penurunan, dan mereka harus menyesuaikan kebiasaan belanja mereka. Hal yang akan memperburuk keadaan adalah mereka juga akan menyadari bahwa mereka terlalu banyak berhutang dan harus mengurangi hutang mereka, sehingga semakin menurunkan konsumsi rumah tangga yang selama ini telah menopang perekonomian.

Terlebih lagi, Bank Sentral Inggris juga telah melakukan kesalahan yang sama dengan rumah tangga yang ada di Inggris: mereka telah meremehkan dampak inflasi dan sekarang mereka akan mengejar ketinggalan dengan menaikkan suku bunga secara siklikal. Suku bunga yang lebih tinggi akan membuat hutang rumah tangga semakin sulit untuk dilunasi.

Inggris bergerak cepat mendekati titik balik yang menjadi karakter dari semua tren perekonomian yang tidak berkelanjutan. Saya menyebut titik balik ini sebagai “refleksivitas” – ketika sebab dan akibat saling mempengaruhi satu sama lain.

Realita perekonomian diperkuat dengan realita politik. Faktanya adalah bahwa Brexit adalah sebuah hal yang tidak akan menguntungkan bagi siapa pun, baik bagi Inggris maupun bagi Uni Eropa. Hasil referendum Brexit tidak dapat diubah kembali, namun masyarakat dapat mengubah pemikiran mereka.

Dan tampaknya hal ini memang sedang terjadi. Upaya Perdana Menteri Theresa May untuk memperkuat posisi mereka dalam melakukan negosiasi dengan melakukan pemilihan umum dalam waktu yang singkat setelah Ia menduduki jabatan justru merugikan dirinya sendiri: Ia kehilangan mayoritas di parlemen dan terjadi parlemen yang menggantung (dimana tidak ada partai yang menjadi mayoritas tunggal).

Penyebab utama kekalahan May adalah kesalahan fatalnya mengajukan usulan agar warga berusia lanjut duharuskan membayar sendiri sebagian besar layanan sosial yang mereka terima, hal ini biasanya akan menyebabkan banyak dari mereka kehilangan rumah yang telah mereka tempati seumur hidup. “Pajak kepikunan”, yang merupakan sebutan bagi kebijakan ini, sangat menyinggung perasaan kosntituen inti dari Partai Konservatif yang merupakan partai asal May. Banyak warga lanjut usia yang kemudian memutuskan untuk tidak ikut memilih, atau justru mendukung partai lainnya.

Peningkatan partisipasi dari generasi muda juga merupakan faktor penting dalam kekalahan May. Banyak dari mereka yang memilih Partai Buruh sebagai sebuah bentuk protes, bukan karena mereka ingin bergabung dengan serikat pekerja atau karena mereka mendukung pimpinan Partai Buruh Jeremy Corbyn (meskipun Ia menunjukkan kinerja yang baik selama masa kampanye).

Sikap para pemuda Inggris terhadap pasar tunggal bertentangan dengan sikap May dan para pendukung “hard” Brexit. Generasi muda Inggris sangat ingin mendapatkan pekerjaan yang layak, baik di Inggris maupun di belahan lain benua Eropa. Sehubuangan dengan hal ini, kepentingan mereka sejalan dengan kepentingan Kota London, dimana pekerjaan tersebut bisa dicari disana.

Jika May ingin tetap berkuasa, Ia harus mengubah pendekatannya dalam negosiasi Brexit. Dan sudah terdapat tanda-tanda bahwa Ia bersiap untuk melakukan hal tersebut.

Hal ini bisa dilakukan dengan penggunaan pendekatan yang bersifat damai menjelang negosiasi yang akan dimulai pada tanggal 19 Juni, May dapat mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa dan setuju untuk tetap menjadi anggota pasar tunggal untuk jangka waktu yang cukup lama untuk bisa melaksanakan seluruh keperluan hukum yang diperlukan. Uni Eropa juga akan menyingkapi hal ini dengan lega, karena hal ini akan menunda saat dimana ketidakhadiran Inggris akan menimbulkan kekurangan anggaran yang besar di Uni Eropa. Pendekatan ini akan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

Hanya dengan cara inilah May dapat membujuk Parlemen untuk menyetujui semua undang-undang yang diperlukan ketika negosiasi Brexit telah selesai dilakukan dan Inggris resmi keluar dari Uni Eropa. Ia mungkin harus meninggalkan aliansi yang buruk dengan Partai Demokratis Unionis di Ulster dan bersikap lebih ramah pada Partai Konservatif (Tories) di Skotlandia, yang menginginkan versi “soft” Brexit. May juga mungkin harus menebus kesalahan Tories di wilayah Kensington, London, sehubungan dengan kebakaran di Tower Grenfell yang menyebabkan 30 orang, atau bahkan lebih banyak lagi, meninggal dunia.

Jika May memutuskan untuk memilih pendekatan ini, maka Ia mungkin dapat terus memimpin pemerintahan minoritas karena tidak ada orang lain yang mau menggantikan posisinya. Brexit setidaknya masih membutuhkan waktu lima tahun lagi untuk diselesaikan secara keseluruhan, dimana, dalam jangka waktu tersebut, pemilihan umum berikutnya akan terjadi. Jika semua berjalan baik, kedua belah pihak mungkin akan tetap ingin bersatu sebelum mereka benar-benar berpisah.