helbing4_Yuichiro Chino_getty images_code Yuichiro Chino/Getty Images

Mati karena Algoritma?

ZÜRICH/LUGANO – Era geologi kita, Antroposen, yaitu era ketika manusia menentukan nasib bumi, dicirikan dengan ancaman yang besar. Beberapa dari ancaman tersebut ditangani dengan rencana-rencana aksi seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Tapi kita sepertinya terperangkap di antara memahami bahwa perilaku kita harus berubah dan ketidakmampuan kita mengubah kebiasaan.  

Dalam dunia yang padat penduduk, banyak orang yang bertanya, “Apa nilai dari nyawa manusia?” Pandemi COVID-19 kembali memunculkan pertanyaan tersebut, dan membingkainya dengan gamblang: Siapa yang harus mati terlebih dahulu jika tidak ada sumber daya yang cukup untuk menyelamatkan semua orang?

Banyak novel fiksi ilmiah, seperti TheTyranny of the Butterfly karya Frank Schätzing, yang mengusung kekhawatiran yang sama, sering kali “menyelesaikan” permasalahan pembangunan berkelanjutan dengan cara-cara yang kejam yang mengingatkan kita pada beberapa masa terkelam dalam sejarah manusia. Dan kenyataannya tidak jauh berbeda. Berpikir bahwa kita bisa bergantung pada kecerdasan buatan (AI) untuk membantu kita mengatasi dilema tersebut adalah sebuah cara berpikir yang sangat menggoda. Permasalahan mengenai depopulasi dan eutanasia berbasis komputer sudah dibicarakan, dan AI sudah digunakan untuk membantu triase pasien COVID-19.    

We hope you're enjoying Project Syndicate.

To continue reading, subscribe now.

Subscribe

or

Register for FREE to access two premium articles per month.

Register

https://prosyn.org/7bH4UORid