1

Pengendalian Resistensi Antimikroba, Sekarang atau Tidak Sama Sekali

LONDON – Orang umumnya beranggapan setiap penyakit bisa disembuhkan dan pengobatan modern yang ampuh pasti bisa menyelamatkan orang.

Namun bayangkan skenario lain. Anda didiagnosis menderita penyakit menular yang mematikan yang sebelumnya bisa diobati dalam hitungan minggu atau bulan, tapi anda diberitahu bahwa pengobatan anda memerlukan setidaknya dua tahun, suntikan harian dan konsumsi pil sebanyak 14.000 buah selama berbulan-bulan, berikut efek sampingnya. Anda salah satu dari segelintir orang yang “beruntung” bisa didiagnosis dan diobati, tapi kemungkinan sembuhnya masih 50-50.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Kebanyakan dari kita tidak mengaitkan skenario tersebut dengan “pengobatan modern” tapi ini merupakan kenyataan pahit bagi banyak orang – 500.000 jiwa dan lebih – yang mengalami multi-drug-resistant tuberculosis (MDR-TB) atau pasien tuberkolosis dengan resistensi ganda. MDR-TB terjadi ketika khasiat obat tidak ampuh melawan strain baru dari infeksi yang dahulu bisa diobati. Tuberkolosis (TB) kini menempati peringkat teratas pembunuh utama akibat penyakit menular, penyebab utama kematian 1 juta orang setiap tahun, sementara itu MDR-TB terus menyebar di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dan pengendaliannya terus menyulitkan penyedia layanan kesehatan.

MDR-TB menimbulkan beban besar pada sistem kesehatan masyarakat dan perekonomian negara dan merupakan pertanda buruk ketika resistensi antimikroba (AMR) semakin merajalela di negara-negara maju dan miskin. Tanpa upaya gabungan, strain yang resisten obat dari jenis infeksi lain seperti Staphylococcus Aureus atau E. coli akan semakin menyebar, sehingga konsekuensinya terhadap kesehatan global dan sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia bisa mematikan.

Ketika AMR berdampak pada hilangnya efektivitas antibiotik, infeksi tak terobati akan membuat prosedur-prosedur yang relatif rutin seperti transplantasi organ atau kemoterapi kanker jauh lebih berisiko. Kerugian pada perekonomian dan korban jiwa akibat meningkatnya AMR bisa meroket di luar kendali: jika dibiarkan, infeksi akibat resistensi obat dapat menyebabkan kematian 10 juta jiwa per tahun pada akhir tahun 2050, sementara kerugian total dalam PDB dunia diperkirakan mencapai 100 triliun dolar AS.

Respon segera dan efektif ialah satu-satunya solusi untuk memutarbalikkan masa depan yang suram. Beruntungnya, pada pertemuan G-20 di Hangzhou, Cina awal bulan ini, para pemimpin dunia menempatkan isu AMR ke dalam agenda G-20 untuk pertama kali, ini mencerminkan pengakuan komunitas internasional bahwa AMR adalah ancaman nyata terhadap pembangunan ekonomi dan kemakmuran global. Sejauh ini G-20 juga melakukan upaya terbesar untuk membangkitkan stpenemuan dan pengembangan produk farmasi yang terganjal untuk beberapa antibiotik baru (diperlukan untuk menggantikan obat-obatan yang resisten) dan menjalankan uji diagnostik agar dokter-dokter bisa meresepkan obat dengan lebih efektif.

Pertemuan Majelis Umum PBB pekan ini di New York memunculkan peluang lain untuk kepemimpinan global dalam pengendalian AMR. Isu tersebut juga termuat dalam agenda untuk pertama kalinya dan Sekjen PBB Ban Ki-moon dan para pemimpin dunia akan menorehkan janji untuk melawan resistensi obat di forum tingkat tinggi.

AMR harus diakhiri dan PBB harus meneruskan upaya yang dimulai G-20. Sebagai forum pemerintahan global yang paling inklusif, PBB adalah satu-satunya badan yang bisa mengatur sumber daya dan komitmen kepemimpinan yang diperlukan dalam pemecahan masalah. Akan tetapi PBB hanya akan berfungsi dengan baik jika berhasil memenuhi sejumlah langkah pokok.

Pertama, negara-negara anggota PBB harus mulai memadukan aksi pengendalian AMR yang lintas sektoral, termasuk bidang kesehatan, pertanian, dan keuangan. Peran PBB sangat strategis. Badan internasional ini mempertemukan para pemimpin dunia dan bisa menguatkan kerja sama antar bangsa dan antar lembaga internasional mengenai isu-isu sosial dan perekonomian dunia; juga bisa menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk mengerahkan sumber daya global melawan AMR.

Kedua, agar semua berjalan sesuai rencana, PBB harus menetapkan batas-batas jelas, berdasarkan outcome yang dapat diukur dan berkomitmen terhadap pencantuman kembali isu AMR ke dalam agenda Majelis Umum setiap dua tahun. Tindakan ini akan menghasilkan kerangka kerja untuk mengukur capaian global, sekaligus mengirim pesan kuat bahwa PBB memiliki komitmen jangka panjang dan AMR senantiasa dijadikan prioritas utama oleh sekretaris-jenderal berikutnya.

Fake news or real views Learn More

Terakhir, PBB perlu menunjuk seorang Utusan Khusus untuk AMR demi menjadi keberlanjutan proses dan capaian di tahun-tahun mendatang. Perwakilan yang ditunjuk hendaknya memiliki posisi tinggi dan berwenang bekerja sama dengan negara-negara dan badan-badan multilateral untuk mempertahankan momentum pengendalian AMR.

Kita boleh merasa optimis sebab AMR akhirnya memperoleh perhatian global. Namun ini biasanya tidak permanen, kita tahu karena debat-debat terdahulu dan terkini mengenai penyakit-penyakit menular biasa redup setelah beberapa lama. Jika kita gagal menuntut akuntabilitas dan komitmen para pemimpin kita, efeknya bisa mematikan.