1

Antibiotik yang Manjur

MEXICO CITY – Sejak ditemukannya penisilin di tahun 1928 hingga dikenalkannya golongan utama antibiotik terakhir di tahun 1960-an, kapasitas manusia untuk melawan bakteri patogen telah berkembang pesat. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, jumlah antibiotik yang dapat menangkal bakteri semakin menurun, dan beberapa bakteri patogen menjadi kebal terhadap hampir semua obat-obatan yang ada. Akibatnya, infeksi yang dahulu dapat diobati sekarang kembali berbahaya.

Kekebalan terhadap antibiotik menyebabkan sekitar 700.000 kematian setiap tahunnya, dengan biaya mencapai puluhan miliar dolar Amerika. Angka tersebut hanya akan terus bertambah seiring berkurangnya kemampuan kita untuk mengobati kanker, transplantasi organ, dan pemasangan alat prosthesis karena kekebalan terhadap antibiotik.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kekebalan antibiotik. Bakteri dapat berkembang biak dan bermutasi dengan cepat, serta menciptakan sesuatu bernama “jaringan genetik” atau “genetic Internet” yang memungkinkan bakteri patogen tertentu untuk “mengunduh” gen kekebalan antibiotik. Selain itu, kebanyakan antibiotik merupakan produk alami dari bakteri tanah, di mana kekebalan antibiotik dapat terjadi secara alami. Ketika antibiotik buatan manusia diperkenalkan dalam skala besar, bakteri dengan kekebalan menjadi lazim.

Saat ini, manusia mengeluarkan sekitar 100.000 ton antibiotik setiap tahunnya. Jika antibiotik tersebut digunakan dengan tepat untuk menyelamatkan kehidupan, analisis manfaat biaya yang benar mungkin dapat dilakukan. Namun, sekitar 70% dari antibiotik tersebut digunakan untuk membantu hewan ternak tumbuh lebih cepat. Sedangkan 30% lainnya, selain untuk mengobati manusia, sering diberikan dalam resep obat secara tidak benar atau sia-sia. Dan karena sebagian besar obat yang telah digunakan dibuang ke lingkungan melalui air limbah dan kotoran, kelompok bakteri dalam tanah, air, dan satwa liar juga ikut terkena dampaknya.

Jika penyalahgunaan antibiotik ini tidak dihentikan, kita akan segera menghadapi kekurangan obat untuk mengobati infeksi bakteri secara efektif. Meskipun beberapa langkah sedang diambil, seperti proposal tindakan internasional yang dihasilkan dalam pertemuan tingkat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan September lalu, langkah-langkah tersebut masih jauh dari cukup.

Yang sebenarnya dibutuhkan sekarang adalah pelarangan segera di seluruh dunia atas penggunaan antibiotik di sektor pertanian. Selain itu, pedoman penggunaan antibiotik secara klinis, yang saat ini tidak dihiraukan oleh masyarakat medis, harus ditinjau kembali dan ditegakkan secara ketat. Kedua tindakan ini saja — yang keduanya dapat ditetapkan oleh badan peraturan pemerintah — akan mengurangi penggunaan antibiotik hingga 80%, yang akan memperlambat peningkatan kekebalan antibiotik secara signifikan.

Tentunya, upaya agar pemerintah menerapkan langkah tersebut tidak mudah karena akan membahayakan kepentingan ekonomi yang kuat, terutama industri farmasi yang menghasilkan $40 milar dari antibiotik setiap tahun. Selama industri farmasi memiliki kepentingan yang besar dalam penyalahgunaan antibiotik secara terus menerus, tidak akan ada minat untuk mengembangkan antibiotik baru untuk mengatasi bakteri yang kebal terhadap obat-obatan. Obat untuk penyakit kronis dan kanker dinilai lebih baik bagi keuntungan mereka.

Alhasil, infustri farmasi mencari “insentif” untuk melakukan penelitian dan pengembangan antibiotik baru, seperti perpanjangan hak paten atau keringanan pajak; alternative lainnya hanya meningkatkan harga obat baru secara gila-gilaan. Namun, keuntungan dari insentif tersebut bagi perusahaan farmasi akan jauh melampaui biaya aktual penelitian dan pengembangan yang dilakukan sehingga akan menjadi alat untuk menyalurkan dana publik ke pihak swasta – pihak yang justru menyebabkan masalah dari awal.

Meski demikian, di luar semua keuntungan ini, masyarakat harus tetap mempertimbangkan ‘hukuman’ bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Saya mengusulkan sebuah inisiatif yang menilai perusahaan farmasi sesuai dengan kontribusinya terhadap pemecahan masalah kekebalan antibiotik ini; perusahaan yang tidak berkontribusi harus dihukum dengan penjualan yang lebih sedikit. Saya menamakannya NANBU (No Antibiotics, No Business – Tanpa Antibiotik Tidak Ada Usaha).

NANBU akan memberikan poin kepada perusahaan dengan program penelitian yang besar atau yang terus mengembangkan antibiotik baru. Perusahaan yang tidak memproduksi atau menjual antibiotik untuk tujuan pertanian, atau yang menolak mempromosikan penggunaan antibiotik untuk penyakit yang tidak membutuhkan obat tersebut juga akan mendapatkan poin. Sedangkan perusahaan yang terlibat dalam perilaku sebaliknya, dengan menjual antibiotik sebagai pendorong pertumbuhan ternak atau aktif mendorong dokter untuk meresepkan obat tersebut, akan kehilangan poin.

Pada awalnya, semua perusahaan obat-obatan sebenarnya akan memiliki skor negatif. Akan tetapi, dari waktu ke waktu, penilaian dapat disesuaikan, selalu menurut saran ilmiah dari kelompok ahli independen. Penilaian kemudian dapat digunakan untuk menuntun keputusan pembelian obat-obatan.

Untuk berbagai jenis obat-obatan terkait, ada beberapa pilihan yang memberikan hasil dan tingkat keamanan yang sama, yang diproduksi oleh berbagai perusahaan. Jadi para dokter dapat meresepkan sebagian besar obat dari perusahaan dengan penilaian tinggi, dan meghindari obat-obatan dari perusahaan dengan penilaian rendah. Pasien dapat mendorong pengambilan keputusan tersebut, dan melakukan hal yang sama ketika membeli obat tanpa resep dokter. Seiring berjalannya waktu, antibiotik dapat kembali memberikan keuntungan lebih karena perusahaan yang terlibat akan menjual lebih banyak obat mereka lainnya dan kebutuhan akan insentif yang mahal akan berkurang.

Kunci keberhasilan NANBU adalah untuk memastikan penyebaran pemahaman mengenai ancaman kekebalan antibiotik dan apa yang diperlukan untuk melawan ancaman tersebut secara luas. Hal ini akan memberikan dorongan kepada pasien dan dokter untuk memperhatikan penilaian NANBU dalam pembuatan keputusan atas obat-obatan, serta untuk menekan pemerintah mereka untuk mengambil tindakan yang lebih kuat. Penggunaan kampanye kesadaran masyarakat untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk mengambil langkah yang penting namun sulit telah memberikan hasil sebelumnya — contohnya dalam memajukan keberlangsungan hutan dan perikanan.

Fake news or real views Learn More

Kesadaran masyarakat merupakan salah satu prioritas yang ditonjolkan dalam pertemuan PBB. Akan tetapi, untuk melaksanakan upaya global tersebut, kita membutuhkan lembaga global baru yang benar-benar mampu menjalankan upaya tersebut. NANBU, sebagai LSM internasional, akan mampu mengatasi sifat transnasional kebanyakan perusahan obat-obatan, namun terlindung dari pengaruh lobi tingkat nasional atau tekanan politik.

Bakteri yang kebal terhadap antibiotik merupakan ancaman global, dan maka dari itu tidak dapat diatasi dengan langkah-langkah nasional saja. Masyarakat dunia harus mulai berpikir dan bertindak bersama untuk mempertahankan kemajuan besar dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia yang telah dihasilkan oleh antibiotik.